FGD “Indonesia dan Solidaritas Global South Menyikapi Situasi Venezuela”
Jakarta - Center for Latin America (CeLA) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Indonesia dan Solidaritas Global South Menyikapi Situasi Venezuela” pada Kamis, 12 Februari 2026 di Ruang MUN, Lt. 3 UPDM (B).
FGD
ini dihadiri oleh Duta Besar Republik Bolivar Venezuela untuk Indonesia, H.E.
Enrique Antonio Acuna Mendoza, serta dimoderatori oleh Ahmad Mulyadi, Ph.D.
Diskusi diikuti oleh perwakilan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia
(AIHII), Departemen HI Universitas Indonesia, BINUS, UPN, Universitas Budi
Luhur, International University Liaison Indonesia (IULI), Universitas 17
Agustus 1945, dan Universitas Jayabaya.
Dalam FGD ini, Duta Besar Mendoza
menjelaskan posisi pemerintah Venezuela terkait situasi pasca penangkapan
Presiden Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores pada 3 Januari 2026. Dalam
paparannya, beliau menekankan bahwa tindakan tersebut dipandang sebagai
pelanggaran kedaulatan negara dan hukum internasional.
Pemerintah Venezuela saat ini dipimpin
oleh Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai Presiden sementara, dengan
pembentukan dua komisi nasional untuk mengevaluasi peristiwa penangkapan dan
memulihkan stabilitas negara. Venezuela juga membuka ruang dialog multilateral,
termasuk dengan akademisi Indonesia, guna mendorong resolusi melalui mekanisme
internasional.
Dalam sesi diskusi, Ibu Kesi
Yovana juga menyoroti pentingnya membangun solidaritas global yang lebih
efektif melalui pendekatan opini publik, khususnya di Amerika Serikat.
Menurutnya, tekanan internasional tidak hanya dapat dilakukan melalui jalur diplomatik
formal, tetapi juga melalui penguatan kesadaran masyarakat sipil dan opini
publik di Amerika Serikat itu sendiri. Opini publik domestik dinilai memiliki
potensi signifikan dalam memengaruhi kebijakan luar negeri pemerintahnya
sendiri, disamping pendekatan berbasis advokasi global dan jejaring akademik yang
juga menjadi salah satu strategi yang relevan dalam konteks ini.
Diskusi
juga membahas pentingnya sikap Indonesia dalam kerangka politik luar negeri
bebas aktif, termasuk perlunya pendekatan yang etis dan berbasis hukum
internasional dalam menyikapi konflik global.
Sebagai
tindak lanjut, FGD menghasilkan enam (6) poin rekomendasi kebijakan yang akan
dirumuskan dalam policy brief dan disampaikan kepada Kementerian Luar Negeri
Republik Indonesia, yaitu:
- Mengecam tindakan
sewenang-wenang terhadap kepala negara berdaulat yang bertentangan dengan
prinsip hukum internasional;
- Menyerukan pembebasan dan
pengembalian Presiden Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores ke
Venezuela;
- Menegaskan kembali pentingnya
prinsip kedaulatan negara, non-intervensi, penyelesaian sengketa secara
damai, dan imunitas kepala negara;
- Memperkuat solidaritas
negara-negara Global South guna mencegah preseden serupa di masa depan;
- Mendorong pencabutan embargo
atau sanksi yang berdampak pada kesejahteraan dan kemanusiaan;
- Mendorong agar isu ini masuk
dalam agenda pembahasan Dewan Keamanan PBB.
Perwakilan
AIHII menyambut baik inisiatif ini dan turut mendorong adanya dialog lanjutan
dengan Kementerian Luar Negeri RI agar rekomendasi akademik dapat dikaji
bersama praktisi kebijakan luar negeri.