• 0217252225
  • Jl. Hang Lekir I No. 8 Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, 10270

KULIAH UMUM “ISLAMABAD NEGOTIATIONS: AN IRANIAN PERSPECTIVE” OLEH DUTA BESAR IRAN UNTUK INDONESIA, MOHAMMAD BOROUJERDI

KULIAH UMUM “ISLAMABAD NEGOTIATIONS: AN IRANIAN PERSPECTIVE” OLEH DUTA BESAR IRAN UNTUK INDONESIA, MOHAMMAD BOROUJERDI

KULIAH UMUM “ISLAMABAD NEGOTIATIONS: AN IRANIAN PERSPECTIVE” OLEH DUTA BESAR IRAN UNTUK INDONESIA, MOHAMMAD BOROUJERDI

Jakarta -- Program Studi Hubungan Internasional Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menyelenggarakan Public Lecture bertema “Islamabad Negotiations: an Iranian Perspective” pada Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Bapak Mohammad Boroujerdi, dipandu oleh Ibu Setya Ambar Pertiwi, PhD, serta mengundang Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional dan masyarakat umum sebagai upaya untuk memberikan atensi atas peristiwa perang yang telah memakan banyak korban jiwa dan berdampak pada sektor lain di banyak negara di dunia.

“Republik Islam Iran, belum pernah memicu konflik atau perang dengan negara lain. Kami selalu membela perdamaian” ujar Duta Besar. Beliau menjelaskan bahwa serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menimbulkan korban jiwa dan berdampak pada stabilitas global, termasuk perdagangan internasional di kawasan Selat Hormuz. Menurut beliau, terdapat miskalkulasi dari pihak Amerika Serikat yang memperkirakan Iran dapat dikalahkan dalam waktu singkat, namun pada kenyataannya konflik berlangsung lebih lama dan justru memperkuat solidaritas masyarakat Iran terhadap pemerintahnya.

Dalam penyampaian nya, Duta Besar Iran menekankan pentingnya dukungan rakyat, persatuan nasional, dan pengembangan sumber daya manusia sebagai kekuatan utama Iran. Ia menjelaskan bahwa Iran berinvestasi besar pada pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi pertahanan dan energi nuklir. Beliau juga menyoroti kemampuan Iran dalam mengembangkan teknologi rudal domestik dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan sistem pertahanan negara lain.

Selain itu, beliau menyampaikan kritik terhadap Amerika Serikat dan Israel yang dinilai melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia. Menurutnya, berbagai organisasi internasional dinilai belum mampu menjalankan fungsi secara efektif dalam merespons konflik tersebut. Beliau juga mengangkat isu dukungan Iran terhadap penghentian perang di Lebanon dan Gaza serta pentingnya kemerdekaan Palestina.

Terkait proses negosiasi, Duta Besar Boroujerdi menyatakan bahwa Iran memiliki pengalaman kurang baik terhadap implementasi berbagai kesepakatan internasional sebelumnya, termasuk negosiasi dengan negara-negara Barat dan proses mediasi yang melibatkan Oman maupun Pakistan. Oleh karena itu, Iran memandang perlu adanya jaminan yang lebih kuat terhadap pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata dan perdamaian jangka panjang.

Pada bagian penutup, beliau menyoroti perubahan geopolitik global akibat perang yang sedang berlangsung, termasuk perubahan konsep kekuasaan, hegemoni, dan keseimbangan internasional. Dalam hal ini, akademisi dan mahasiswa diharap dapat menganalisis lebih kritis terhadap perubahan geopolitik, dinamika organisasi internasional, serta penyebaran


informasi dan hoaks dalam konflik internasional. Menurut beliau, akademisi memiliki peran penting dalam memberikan rekomendasi kebijakan yang berdasarkan fakta dan prinsip perdamaian serta kemanusiaan.

Kepala Program Studi Hubungan Internasional, Ibu Nadirah MA, juga memberikan pandangan bahwa perang yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat bukan hanya persoalan militer, tetapi juga persoalan ekonomi dan sosial di berbagai negara, termasuk Indonesia. Untuk itu, agar konflik tidak semakin meluas dan memberikan dampak yang lebih besar, semua pihak diharapkan dapat mendukung upaya diplomasi, serta mematuhi setiap hasil negosiasi yang telah disepakati bersama demi terciptanya stabilitas dan perdamaian internasional.

Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator, yang menyoroti isu technological sovereignty, pengembangan sumber daya manusia unggul, serta dukungan masyarakat Iran dalam menghadapi konflik dan tekanan internasional.

  • Kuliah Umum HI FISIP Universitas Moestopo, Universitas Moestopo, Duta Besar IRAN, Diktisaintek Berdampak