FIKOM UPDM (B) Gelar Talk Show "The Colors of Communication", Bahas Pengaruh Budaya dan Viralitas di Era Digital
JAKARTA – Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menggelar acara tahunan The Colors of Communication, kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah mahasiswa S1 dan S2 ini berjalan lancar. Khusus untuk mahasiswa S2 menjadi penyelenggara kegiatan talk show bertajuk "Influence and Virality: Trend Budaya dalam Komunikasi Digital" yang diselenggarakan di Kampus I Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jalan Hang Lekir I, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026).
Talk show yang berlangsung selama
tiga jam ini dibuka langsung oleh Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo
(Beragama), Dr. H. Muhammad Saifulloh. Turut hadir Dekan Fakultas Ilmu
Komunikasi Rialdo Rezeky Manogari L. Toruan, S.Sos., M.Si., Wakil Dekan Dr. Eni
Kardi Wiyati, M.Si., Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Dr. Natalia
Nilamsari, S.Sos., M.Si., serta Ketua Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Fizzy
Andriani, S.E., M.Si.
Talk show menghadirkan dua
narasumber, yakni Kepala Biro Humas dan Publik Kementerian Kebudayaan RI Prof.
Dr. Ibnu Hamad serta Head of Protocol and Corporate/Public Affairs SCM-Emtek
Media, Irnawati Widji Kahardja. Kegiatan dipandu oleh Nusantara Husnul Khatim
Mulkan, yang juga menjabat sebagai Ketua Subkomisi Media dan Publikasi Lembaga
Sensor Film Indonesia.
Dalam sambutannya, Rektor UPDM
(B), Dr. H. Muhammad Saifulloh, mengatakan bahwa perkembangan teknologi digital
telah membawa perubahan besar terhadap pola komunikasi masyarakat beserta
budaya yang menyertainya. Menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan
yang tidak dapat dihindari di tengah pesatnya perkembangan era digital.
"Era digital telah mengubah
banyak hal, termasuk cara kita berkomunikasi dan budaya yang menyertainya.
Karena itu, penyesuaian terhadap perubahan menjadi sebuah keharusan,"
ujarnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Ibnu
Hamad menjelaskan bahwa perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari merupakan
bagian dari kebudayaan, termasuk budaya digital yang berkembang saat ini. Ia
menegaskan bahwa setiap individu pada hakikatnya adalah budayawan karena mampu
menciptakan sesuatu yang menjadi produk kebudayaan.
Menurutnya, pemahaman tersebut
harus menjadi dorongan untuk melahirkan karya dan kreativitas sendiri, bukan
sekadar mengagungkan budaya yang diciptakan pihak lain.
"Kita tidak boleh berkecil
hati dengan hanya membesarkan budaya orang lain. Kita harus mampu menciptakan
budaya kita sendiri. Dalam dunia akademik, mahasiswa maupun dosen dituntut
untuk menghasilkan teori-teori yang lahir dari pemikiran kita sendiri,"
jelasnya.
Pada kesempatan yang sama,
Irnawati Widji Kahardja mengulas pentingnya budaya digital dalam membangun
reputasi dan branding, baik bagi perusahaan maupun individu. Menurutnya, media
sosial kini telah menjadi sarana utama dalam membangun citra yang mampu meningkatkan
eksistensi, kepercayaan publik, investasi, hingga membuka peluang ekspansi
organisasi.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat
saat ini menghabiskan waktu berjam-jam di internet dan media sosial, sehingga
platform digital menjadi media yang sangat efektif untuk menjangkau berbagai
kalangan.
"Reputasi dan branding yang
kuat di media sosial dibangun melalui konsistensi, komunikasi dua arah, inovasi
konten, pemahaman terhadap audiens, serta evaluasi yang dilakukan secara
berkelanjutan. Hal tersebut menjadi fondasi penting bagi keberhasilan
organisasi maupun perusahaan dalam jangka panjang," paparnya.
Talk show berlangsung interaktif
dengan diikuti peserta secara luring maupun daring dari seluruh Indonesia.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama pada sesi diskusi dan
tanya jawab yang berkembang dinamis dengan berbagai pertanyaan seputar
komunikasi digital, budaya, serta tantangan dan peluang di era media sosial.
Melalui talk show ini, Fakultas
Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) berharap dapat
memperluas wawasan mahasiswa, akademisi, dan praktisi mengenai dinamika budaya
komunikasi digital sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru yang mampu
memperkaya khazanah ilmu komunikasi di Indonesia.