Tiga Gagasan, Satu Dedikasi: DAP FISIP Moestopo Dorong Transformasi Administrasi Publik melalui Riset dan Inovasi
Jakarta, 9 September 2026 — Ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang sidang. Ia tumbuh melalui keberanian untuk meneliti, menguji persoalan nyata, dan menghadirkan gagasan yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
Semangat itulah yang terasa dalam
Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Administrasi Publik (DAP),
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Prof. Dr. Moestopo
(Beragama) yang diselenggarakan pada 9 September 2026 di Kampus I Universitas
Moestopo.
Sidang tersebut menjadi momentum
penting bagi tiga promovendus—Isidorus Anung Prabadhi, Iman Santoso, dan Ali
Muhammad—yang masing-masing menghadirkan penelitian dengan fokus berbeda, namun
memiliki benang merah yang sama: menghadirkan kontribusi pemikiran bagi
penguatan tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik di Indonesia.
Sidang terbuka tersebut dibuka
oleh Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) sekaligus Ketua Sidang,
Dr. H. Muhammad Saifulloh, S.Sos., M.Si. Dalam pesannya, Rektor menyampaikan
bahwa capaian akademik yang diraih hendaknya tidak berhenti sebagai sebuah
prestasi pribadi, tetapi dapat memberikan manfaat bagi bangsa dan negara,
khususnya bagi keluarga dan masyarakat.
Rektor juga mengingatkan para
promovendus untuk senantiasa menjaga hubungan dengan almamater dan membawa nama
baik Universitas Moestopo, khususnya FISIP, di mana pun mereka berada.
Pesan senada disampaikan Kepala
Program Studi Doktor Administrasi Publik FISIP Universitas Moestopo, Dr. Pandji
Sukmana, S.Sos., M.Si. Ia berpesan agar ilmu yang telah diperoleh selama
menempuh pendidikan doktoral dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara luas.
“Jangan pernah berpuas diri
dengan capaian yang telah diraih. Terus kembangkan ilmu, berikan manfaat bagi
masyarakat, dan selalu ingat serta jaga almamater dengan baik,” menjadi pesan
yang menegaskan bahwa gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan akademik,
melainkan awal dari tanggung jawab keilmuan yang lebih besar.
Isidorus Anung Prabadhi:
Transformasi Digital Membutuhkan Kepemimpinan dan Manajemen Perubahan
Promovendus Isidorus Anung
Prabadhi mengangkat disertasi berjudul “Implementasi Kebijakan Sistem Aplikasi
Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) di Lingkungan Politeknik Imigrasi Kementerian
Hukum Republik Indonesia.”
Penelitian ini melihat
implementasi SAKTI sebagai bagian dari transformasi digital dalam tata kelola
keuangan pemerintahan. Sistem tersebut diharapkan mampu mendukung pengelolaan
fiskal yang lebih efisien, terintegrasi, dan real-time.
Namun, transformasi digital tidak
selalu berjalan tanpa hambatan. Penelitian ini menemukan sejumlah tantangan,
antara lain instabilitas sistem pada saat pelaporan, masih adanya bottleneck
pada modul manual, kekakuan postur anggaran, variasi literasi digital, serta
rotasi staf yang relatif cepat.
Dengan pendekatan kualitatif
deskriptif dan studi kasus intrinsik, penelitian dilakukan di Politeknik
Imigrasi dengan melibatkan perspektif manajerial, teknis, dan eksternal. Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian
dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa implementasi SAKTI berhasil secara parsial, terutama dalam mendukung
akuntabilitas dan kepatuhan fiskal. Menariknya, keberhasilan tersebut tidak
semata-mata ditentukan oleh teknologi. Kualitas informasi, kepemimpinan transformasional,
dan manajemen perubahan turut menjadi faktor penting dalam menjaga keberhasilan
implementasi kebijakan.
Temuan tersebut memperlihatkan
bahwa transformasi digital birokrasi pada akhirnya bukan hanya persoalan
sistem, melainkan juga persoalan manusia, kepemimpinan, dan kemampuan
organisasi beradaptasi.
Penelitian ini merekomendasikan
pengembangan fitur teknis sistem, peningkatan kualitas layanan dukungan,
peningkatan kompetensi internal, serta transformasi kebijakan anggaran agar
lebih proporsional dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Iman Santoso: Data Terintegrasi
untuk Kebijakan Pemasyarakatan yang Lebih Adaptif
Sementara itu, Iman Santoso
menghadirkan penelitian yang berfokus pada pengembangan kebijakan
pemasyarakatan berbasis data melalui disertasi mengenai pemetaan residivis
dengan pendekatan Single Identity Number (SIN).
Penelitian yang dilakukan di
Lapas Kelas I Cipinang Jakarta ini berangkat dari persoalan fragmentasi data
narapidana, belum optimalnya pemanfaatan basis data pemasyarakatan, serta
kebutuhan untuk memahami riwayat dan potensi residivisme secara lebih komprehensif.
Melalui pendekatan mix method
sequential explanatory, penelitian ini menghasilkan pengembangan konseptual
“Bryson 2.0: Model Perencanaan Strategis Koreksional Berbasis Single Identity
Number (SIN)”.
Model tersebut merupakan
rekonstruksi dari model perencanaan strategis Bryson yang disesuaikan dengan
karakteristik organisasi publik yang bersifat koersif dan memiliki tingkat
risiko tinggi.
Bryson 2.0 mendorong perubahan
pendekatan perencanaan dari pola linier-statis menuju pola yang lebih
sibernetis dan adaptif melalui integrasi data berbasis SIN. Model ini juga
memasukkan variabel kriminogenik dan faktor jaringan dalam identifikasi isu strategis
serta mengarahkan perencanaan pada desistance outcome planning.
Dengan demikian, keberhasilan
kebijakan tidak hanya dilihat dari output perencanaan, tetapi juga dari
kemampuan kebijakan dalam mendorong penurunan residivisme, reintegrasi sosial,
dan perubahan perilaku narapidana yang dapat dipantau secara longitudinal.
Penelitian ini sekaligus
menekankan pentingnya penguatan kelembagaan, optimalisasi Sistem Database
Pemasyarakatan (SDP), peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta
penguatan regulasi dan penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan SIN.
Ali Muhammad: Membangun Pembinaan
Narapidana yang Dinamis dan Responsif
Promovendus ketiga, Ali Muhammad,
mengkaji efektivitas implementasi kebijakan revitalisasi penyelenggaraan
pemasyarakatan dan pembinaan narapidana melalui klasifikasi narapidana di
Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tangerang.
Penelitian ini hadir di tengah
berbagai tantangan pemasyarakatan, seperti overcrowding, residivisme,
keterbatasan sumber daya, serta belum optimalnya pelaksanaan program pembinaan.
Dengan menggunakan pendekatan
kualitatif dan metode studi kasus, penelitian menemukan bahwa klasifikasi
narapidana telah digunakan sebagai dasar dalam proses penempatan dan pembinaan.
Proses tersebut mencakup pengenalan lingkungan, asesmen risiko dan kebutuhan,
input data ke Sistem Database Pemasyarakatan (SDP), penataan blok hunian,
hingga evaluasi program pembinaan.
Meski demikian, implementasinya
masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain komunikasi kebijakan,
pemahaman petugas, keterbatasan asesor, sarana dan prasarana, anggaran, serta
koordinasi antarunit.
Sebagai kebaruan penelitian, Ali
Muhammad menawarkan Model Klasifikasi Narapidana Dinamis Berbasis
Risk–Need–Responsivity (RNR) dan Sistem Database Pemasyarakatan (SDP).
Model tersebut mengintegrasikan
monitoring dan re-asesmen secara berkala sehingga klasifikasi narapidana dapat
disesuaikan dengan perubahan tingkat risiko dan kebutuhan pembinaan.
Pendekatan ini diharapkan mampu
mendorong pembinaan yang lebih adaptif dan responsif sekaligus memperkuat upaya
mengurangi risiko residivisme.
Dari Ruang Akademik untuk
Indonesia
Tiga penelitian yang
dipresentasikan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor DAP FISIP Universitas
Moestopo menunjukkan bahwa persoalan administrasi publik semakin membutuhkan
pendekatan yang adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada dampak.
Mulai dari transformasi digital
tata kelola keuangan pemerintahan, integrasi data dalam kebijakan
pemasyarakatan, hingga pengembangan model pembinaan narapidana, ketiganya
memperlihatkan satu pesan penting: kebijakan publik yang baik harus mampu
menjawab persoalan nyata dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Bagi FISIP Universitas Moestopo,
lahirnya para doktor bukan sekadar bertambahnya capaian akademik. Lebih dari
itu, setiap doktor yang lahir membawa harapan agar ilmu yang diperoleh dapat
kembali kepada masyarakat dalam bentuk gagasan, inovasi, pengabdian, dan
solusi.
Sebab, pada akhirnya, gelar
doktor bukan tentang seberapa tinggi seseorang mencapai jenjang pendidikan,
tetapi tentang seberapa jauh ilmu yang dimiliki mampu memberikan arti bagi
kehidupan.
FISIP Universitas Moestopo —
Berilmu, Berdampak, dan Mengabdi untuk Indonesia.