Menjaga Energi, Menjaga Masa Depan: FISIP Moestopo Bahas Industri Migas dan Ketahanan Energi Nasional
Jakarta, 12 September 2026 — Ketahanan energi bukan sekadar persoalan berapa banyak minyak dan gas yang dimiliki sebuah negara. Di balik setiap liter bahan bakar terdapat persoalan tata kelola, kebijakan, ekonomi, teknologi, hingga dinamika geopolitik yang menentukan keberlanjutan kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional.
Berangkat dari pentingnya
memahami persoalan tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menyelenggarakan Seminar Nasional
bertajuk “Industri Minyak & Gas Bumi di Indonesia: Sejarah, Tata Kelola dan
Tuntutan Ketahanan Energi Nasional”, pada 12 September 2026 di Kampus I
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta.
Kegiatan ini menjadi ruang
akademik bagi sivitas akademika untuk melihat industri migas Indonesia secara
lebih luas—bukan hanya dari sisi sumber daya, tetapi juga dari perspektif
sejarah, tata kelola, kebutuhan energi, serta tantangan yang dihadapi Indonesia
dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Dalam sambutannya, Dekan FISIP
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Dr. H. Ryantori, M.Si., menyampaikan
harapannya agar seminar tersebut dapat memberikan manfaat dan memperluas
wawasan para peserta melalui pengalaman serta pengetahuan yang disampaikan oleh
narasumber.
Ia juga mengingatkan kembali
makna penting kata “Beragama” yang menjadi bagian dari identitas Universitas
Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Nilai tersebut menjadi landasan penting dalam
membangun insan akademik yang tidak hanya memiliki kecakapan intelektual,
tetapi juga menjunjung nilai moral dan tanggung jawab dalam mengimplementasikan
ilmu pengetahuan.
Membaca Sejarah Migas, Memahami
Tantangan Masa Depan
Seminar dilanjutkan dengan
pemaparan oleh Anggota Komite, Dewan Komisaris PT Pertamina (Persero), Dr.
Irham Dilmy, MBA, CRP, CHRM, CIMA.
Dalam paparannya, Dr. Irham Dilmy
mengajak peserta melihat perjalanan panjang industri minyak dan gas bumi di
Indonesia, mulai dari sejarah pengelolaan migas hingga perkembangan tata kelola
dan kelembagaan sektor hulu dan hilir.
Pembahasan kemudian diarahkan
pada persoalan kebutuhan energi nasional yang terus berkembang. Pertumbuhan
kebutuhan tersebut menuntut kemampuan negara untuk memastikan energi tetap
tersedia, dapat diakses masyarakat dan industri, serta memiliki harga yang
terjangkau.
Salah satu persoalan yang
mendapat perhatian adalah adanya kesenjangan antara kebutuhan BBM nasional
dengan produksi domestik. Ketergantungan terhadap impor serta keterbatasan
kapasitas penyimpanan menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian serius
dalam upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Empat Pilar Ketahanan Energi
Dalam konteks ketahanan energi,
ketersediaan energi saja tidak cukup. Ketahanan energi perlu dibangun melalui
empat pilar utama, yaitu availability, accessibility, affordability, dan
sustainability.
Artinya, energi harus tersedia
dalam jumlah yang memadai, dapat diakses oleh masyarakat, memiliki harga yang
terjangkau, serta dikelola secara berkelanjutan dengan memperhatikan
keberlangsungan lingkungan.
Persoalan tersebut menjadi
semakin kompleks ketika Indonesia menghadapi tantangan global. Ketergantungan
terhadap energi fosil, keterbatasan infrastruktur dan distribusi, kondisi
geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, regulasi yang belum stabil, serta
dinamika geopolitik global menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi
ketahanan energi nasional.
Dinamika geopolitik bahkan dapat
memberikan dampak langsung terhadap jalur pasokan dan harga minyak dunia.
Karena itu, ketahanan energi membutuhkan kebijakan yang mampu melihat persoalan
tidak hanya dalam perspektif hari ini, tetapi juga mempersiapkan Indonesia
menghadapi kebutuhan energi di masa mendatang.
Dari Ruang Akademik untuk
Ketahanan Bangsa
Seminar Nasional FISIP
Universitas Moestopo ini menjadi bagian dari komitmen FISIP untuk terus
menghadirkan ruang akademik yang responsif terhadap persoalan strategis bangsa.
Bagi dunia pendidikan tinggi,
membicarakan energi berarti membicarakan masa depan. Sebab energi menggerakkan
industri, transportasi, ekonomi, dan kehidupan masyarakat. Ketika ketahanan
energi terjaga, maka keberlanjutan pembangunan pun memiliki fondasi yang lebih
kuat.
Melalui forum ini, FISIP
Universitas Moestopo tidak hanya mengajak sivitas akademika untuk memahami
sejarah dan tata kelola industri migas, tetapi juga mendorong lahirnya
perspektif kritis terhadap tantangan energi Indonesia.
Karena menjaga energi bukan hanya
tentang menjaga sumber daya hari ini, tetapi tentang memastikan Indonesia
memiliki kekuatan untuk melangkah menuju masa depan.
FISIP Universitas Moestopo —
Berilmu, Berintegritas, dan Berdampak untuk Indonesia.